Blogger Widgets

Kamis, 22 September 2011

Note 2: Togetherness

Sometime a bending friendship is better than nothing.
But even the bend broke, I'm sure we'll still together.
Anyway, I think every relationship in this world are caused by the chain itself.

Jadi waktu itu aku meneruskan paskibra sebagai ekstrakulikuler ku.
Aku tak begitu menyadarinya, konyol, maksudku waktu itu aku tak pernah benar-benar berpikir kenapa aku bisa disini, atau kenapa aku bisa mulai mencintai aktivitas fisik berbau setengah militer itu. Waktu itu yang kupikirkan (sepertinya) hanyalah bahwa aku tak mau memberitahu ayahku, banyak sedikit kekerasan fisik disini, itupun kalau bisa dikategorikan sebagai kekerasan fisik, tapi yang jelas ayahku tak akan suka.

Dalam setiap angkatan, ada yang bertanggung jawab atas teman-temannya, dalam paskibra kami memanggilnya bulu dan palu. Setiap angkatan bulu dan palu ini memiliki nama panggilan. Kadang abi dan ummi, ibu dan ayah, dan dalam angkatan kami emak dan ayah (sepertinya tidak begitu nyambung, tapi ketika memanggil mereka dalam panggilan itu rasanya menyenangkan sekali).

Kami seangkatan harus pikir dua kali jika bolos latihan, karena satu orang tidak masuk berarti 1 set push up untuk yang masuk (1 set=10 reps, 10 set=100 reps nonstop, waktu itu push up ku konyol jadi tidak terlalu melelahkan). Emak dan Ayah itu biasanya dijatuhi hukuman lebih, dan biasanya kami juga ikut turun (push up) karena kami tak tega melihat mereka push up sendirian. Waktu itu Teddy (Ayah) adalah orang paling gentle yang pernah kukenal, dia benar-benar inspiratorku, pernah waktu latihan aku lupa bawa topi, aku panik dan mencari-cari ke gudang kelasku karena biasanya disana ada topi, dan ketemu tapi topi itu berlabel sekolah lain. Aku bertanya pada Ayah apakah topi ini boleh dipakai, dia bilang boleh dan menukar dengan topinya sendiri karena aku tidak begitu yakin. Sialnya, hari itu alumni tergalak sedunia datang (teh rekha, biasanya wanita selalu jadi yang paling mengerikan) dan dia memeriksa topi itu karena juga ayah dan emak selalu duduk di depan, kenalah Teddy dan aku tidak berani melakukan apa-apa. Setiap mengingat ini aku jadi agak kesal, kesal karena begitu konyolnya aku waktu itu, baik secara fisik maupun mental.

But I was happy that I'm say myself in the past is ridicoulous, it's mean I'm better now.

Kadang-kadang, setiap latihan aku selalu dipisahkan, aku tidak memikirkannya dan mengerti alasannya waktu itu karena penyebab aku dipisahkan adalah aku tidak diikutsertakan lomba. Tapi aku bahagia, aku bahagia duduk di rerumputan pada saat senja istirahat lebih awal, melihat mereka latihan langkah tegak maju, aku merasa punya teman sekarang, dan kakak juga. Setelah sekian lama aku terbiasa sendiri karena banyak hal mulai dari bullying dan sebagainya, akhirnya aku bahagia juga.

Note 1: The Beginning of memories

Some of part of this memories not really I want to think of though...
But, well, let's see... I'll write all of my post with half english and Indonesian, I just want to improve my english but at the same time it's quite hard to use english all the time, so I'm sorry for that.

It's begin when I'm still idiot, when I'm still just living without think any of complicated things in this life.

Aku takut pada seseorang yang seharusnya tidak ditakuti oleh siapapun karena suatu alasan konyol, dan sekarang ia malah jadi banci (aku serius dalam hal ini). Waktu itu aku masih menduduki bangku SMA, my first year, kebetulan dia adalah anggota paskibra, paskibra sekolah kami kekurangan member dan anggota-anggotanya diperintah untuk mencari anggota baru, jadi dia mengajakku dan inilah aku.

Aku berniat untuk hadir di hari pertama dan setelah itu langsung mengundurkan diri dengan tidak masuk pada hari-hari berikutnya. Aku memang idiot waktu itu, tapi aku tidak suka melakukan hal-hal yang kulakukan karena takut dengan seseorang.

But what the first things I found in here is something precious, something that imprinted on my mind forever.

Pertama kali aku masuk kami dikumpulkan di suatu kelas dulu dan langsung latihan. Latihan sesi pertamaku adalah jalan ditempat. Aku adalah anak dengan tinggi 170cm, bungkuk, sangat kurus, dan tidak suka olahraga sama sekali. So that was a hard thing to do for me, tetapi waktu itu Kang Aldi (kipas, red. ketua paskibra) terus menyemangatiku secara personal.

"Ayo Semangat!!"
"Anggap kamu sangat marah pada tembok itu"!!
"Lebih tegap!, Jangan menyerah dek!!"

Aku takkan pernah lupa hari itu.